Keinginan

Mungkin teman-teman beberapa sudah ada yang tahu kalau profil singkat saya pernah dimuat di BBC Indonesia. Perasaan saya atas artikel tersebut netral-netral saja. Di satu sisi saya senang karena diliput, tapi di satu sisi saya merasa sedih. Continue reading

Posted in buah pemikiran | Leave a comment

Kehidupan PhD #2: Masalah, masalah, dan masalah!

Saat awal masuk sebagai mahasiswa PhD, saya pernah makan siang dengan pemimpin John Adams Institute (institusi bagian dari 3 universitas dan salah satunya Univ of Oxford). Saya bercerita bahwa saya sedang belajar tentang plasma dari satu buku sambil mengerjakan soal-soal dari buku tersebut, tapi ada beberapa soal yang saya tidak bisa jawab. Beliau memberi nasihat yang kira-kira isinya, “kalau kamu menghadapi suatu masalah, sampingkan dulu masalah itu, dan kerjakan hal yang lain.” Lanjutnya, “Kalau suatu saat kamu lihat lagi masalahnya, biasanya kamu akan kepikiran solusinya.” Dan ternyata hal itu terjadi pada saya 6 bulan terakhir ini. Continue reading

Posted in sehari-hari | 2 Comments

Kehidupan PhD #1: Sepeda, Biola, dan Jalan Kaki

Oktober 2014 – Maret 2015

Beberapa minggu yang lalu saya sempat membaca tulisan lama saya mengenai bagaimana saya mencari kerja praktek di luar negeri (tautan di sini) dan perjuangan magang di CERN (tautan di sini). Rasanya sempat bernostalgia masa-masa penuh perjuangan dulu (sekarang juga penuh perjuangan sih) dan berpikir ada baiknya kalau saya menulis juga kehidupan saya saat ini untuk saya di masa depan.

Kehidupan saya di sini kebanyakan berkutat dengan riset dan kurang banyak hal yang menarik untuk diceritakan secara detail, jadi saya berpikir untuk merangkum dalam beberapa bulan. Refleksi satu tahun hingga awal Oktober 2014 sudah saya ceritakan dalam post lain. Jadi inilah rangkuman kehidupan saya selama 6 bulan. Continue reading

Posted in Uncategorized | 5 Comments

Air minum

Cerita singkat ini sebenarnya terjadi saat tahun kedua saya kuliah di ITB (sekitar 2011 atau 2012). Saat itu saya dan seorang teman saya (Eja) ditugaskan untuk men-survey beberapa lembaga pendidikan di Bandung mengenai penggunaan cloud computing. Lembaga yang kami survey bervariasi dari lembaga yang masih kecil hingga yang sudah beromzet besar. Kami mensurvey dengan menghubungi pimpinan (atau pimpinan cabang) lembaga tersebut dan mewawancarai langsung pimpinannya. Lembaga yang kami datangi untuk survey memang tidak banyak (sekitar 10 atau kurang), tapi ada hal yang menarik dari beberapa lembaga tersebut: air minum.

Beberapa lembaga yang masih kecil yang kami datangi, pimpinannya tidak menyuguhi kami air minum. Pimpinan lembaga yang omzetnya relatif lebih besar menyuguhi kami segelas air putih. Bahkan saat kami mengunjungi lembaga yang omzetnya terbesar (dibandingkan yang lain), kami disuguhi segelas jus oleh pimpinannya. Kami bukanlah tamu yang penting bagi mereka. Kami saat itu hanyalah mahasiswa yang melaksanakan tugas kuliah dan hampir tidak memberikan manfaat apapun bagi mereka. Sepertinya besaran omzet mempengaruhi jenis suguhan ke tamu.

Atau sebaliknya?

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Jenewa, kota dengan sejuta kejutan

Sejak pertama kali menginjakkan kaki di Jenewa pada tahun 2013, kota ini selalu membawa kejutan pada saya. Hari Rabu kemarin (11 Maret 2015) adalah yang keempat kalinya saya menginjakkan kaki di Jenewa. Selalu saja ada hal baru dan hal menarik bagi saya.

Juni 2013 adalah kali pertama saya pergi ke Eropa dan kota tujuan pertamanya adalah Jenewa. Saat itu saya akan mengikuti program magang di CERN selama 2 bulan. Ceritanya saya pernah tulis di beberapa artikel, dimulai dari link ini. Dua bulan itulah pertama kalinya saya mendapatkan pengalaman bekerja di lingkungan internasional. Berkat internship itu pula lah saya mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan studi di Oxford.

Kunjungan kedua kalinya adalah pada April 2014. Saya membawakan presentasi proyek PhD saya untuk rapat kolaborasi AWAKE. Ini adalah kolaborasi yang sangat serius. Total dana dari CERN saja mencapai 11 juta Swiss Franc (sekitar Rp 145 miliar), belum ditambah dana yang didapat dari institusi lain di Jerman, Inggris, Swiss, dan Norwegia. Dan tentu saja rapat yang saya hadiri saat itu adalah rapat yang serius. Professor (atau minimal post-doc) dari berbagai institusi mempresentasikan progress kerja mereka. Hanya saya sendiri mahasiswa PhD yang presentasi di rapat tersebut. Hasilnya? Sangat tidak memuaskan. Saat itu saya merasa telah membawakan dengan cukup bagus, karena salah satu dosen dari UCL mengatakan presentasi saya “well defended“. Hanya saja setelah beberapa lama saya baru sadar mereka tidak menganggap presentasi saya secara serius (what can you expect from a PhD student?).

Dua bulan kemudian, saya kembali mengunjungi CERN untuk presentasi hasil dari tugas kuliah (berbeda dari riset PhD saya). Ini adalah salah satu program dari institusi saya (John Adams Institute). Presentasi saat itu cukup berhasil menurut saya karena forum presentasinya memang ditujukan untuk mahasiswa PhD yang membawakan hasil tugas kuliah masing-masing. Yang berkesan adalah karena salah satu direktur CERN, Emmanuel Tsesmelis, yang mengorganisir forum tersebut.

Kunjungan yang keempat adalah hari Rabu – Jumat kemarin. Tujuannya adalah membawakan hasil riset saya di rapat kolaborasi AWAKE, seperti di tahun sebelumnya. Sebelum berangkat, saya merasa cukup terbebani karena salah satu petinggi di kolaborasi tersebut mengatakan ke saya seminggu sebelumnya, “hasil kerja saya 100 kali lebih bagus daripada hasil kerja kamu”. Ya, progress yang kami lakukan memang masih belum ada apa-apanya dibandingkan hasil kerja grup lain di kolaborasi tersebut. Tapi alhamdulillah setelah presentasi, cukup banyak yang tertarik untuk mengintegrasikan riset kami di kolaborasi tersebut. Kali ini mereka pun cukup welcome dengan riset kami, berbeda dengan apa yang terjadi tahun lalu. Kami juga berhasil mendapatkan persetujuan dari beberapa orang untuk menggunakan data mereka untuk riset kami. Saya langsung mengirim email ke supervisor dan rekan post-doc saya mengenai hasil presentasi dan hasil rapat serta rencana saya ke depan. Singkat kata, saya pergi dengan kecemasan, pulang membawa semangat.

Semoga kunjungan selanjutnya selalu membawa semangat.

Posted in Uncategorized | 4 Comments

Refleksi satu tahun

Tak terasa sudah hampir setahun saya tinggal di sini. Hari Jumat, 18 Oktober 2013 adalah hari pertama saya menginjakkan kaki di Oxford. Sejak hari itu rasanya sudah cukup banyak yang terjadi. Mulai dari kehidupan pekerjaan hingga kehidupan sosial.

Di awal-awal kedatangan saya di sini cukup banyak masalah yang saya hadapi, mulai dari culture shock (terutama masalah berpakaian), minder dengan teman-teman lain (baik teman-teman Indonesia maupun teman-teman dari luar negeri), hingga masalah berbahasa. Saya tidak kenal siapapun di Oxford saat pertama kali tiba di sini. Ingin ngobrol dengan teman-teman di Indonesia juga sulit karena masalah perbedaan waktu. Hal-hal itu cukup untuk membuat saya stress.

Sebulan dua bulan berlalu, saya sudah mulai lumayan pede untuk bergaul dengan teman-teman Indonesia dan teman-teman luar negeri (kecuali yang dari Britain, lagi-lagi karena masalah bahasa). Cerita pengalaman teman-teman saya yang ternyata juga susah bergaul dengan teman-teman Britain cukup membuat stress saya berkurang. Saya juga sudah bisa mulai beraksen British (meskipun untuk mendengar orang British ngomong masih cukup sulit).

Dulu saya bertekad untuk tidak beli sepeda dan memaksimalkan jalan kaki dalam sebulan pertama di Oxford. Pada akhirnya keterusan jalan kaki sampai sekitar 6 bulan. Saat jalan kaki dari flat ke tempat kerja (kira-kira 20 menit), saya biasanya memikirkan dan melakukan hal macam-macam. Saya merencanakan apa yang akan saya lakukan di kampus hari itu saat jalan ke tempat kerja. Saya juga sering cerita sendiri mengenai apapun untuk melatih bahasa Inggris (dan aksen British) saya sambil jalan kaki. Kalau ada sesuatu hal yang bikin penasaran di tempat kerja, saya biasanya memikirkannya sambil jalan pulang. Kalau lagi stress, jalan lambat sambil menikmati bangunan tua di Oxford dan sedikit merenung cukup ampuh untuk mengurangi stress. Saya jadinya sering mengamati kehidupan sosial di Oxford saat berjalan kaki.

Karena saya merasa tidak punya teman di awal-awal, jadilah saya jalan-jalan ke mana saja sambil kenalan. Datang ke banyak acara di Oxford, London, Birmingham, Cambridge, Leeds, dan Edinburgh, tentunya sambil kenalan dengan orang baru. Yaaah, meskipun sebagian dari mereka sekarang sudah pulang ke Indonesia sih.

Setengah tahun berlalu sejak pertama kali saya datang ke Oxford. Kakak saya sudah pulang ke Indonesia, untungnya saya sudah punya lebih banyak teman daripada saat awal. Saya juga dapat (pinjaman) sepeda dari teman saya yang balik sementara ke Indonesia. Ritme kerja saya juga sudah dapat menyesuaikan dengan ritme kerja orang British tanpa overtime.

Dengan sepeda, tentunya pergi ke mana saja di Oxford jadi semakin mudah dan cepat. Tapi segala keuntungan berjalan kaki tentunya jadi tidak diperoleh. Pace sepeda yang cepat membuat saya tidak sempat menikmati keindahan kota ini. Tidak sempat juga untuk refleksi apa yang terjadi hari itu, minggu itu, dan bulan itu.

Menyesuaikan ritme kerja tanpa overtime juga terkadang membuat produktivitas saya berkurang. Bahkan beberapa kali saya sempat deg-degan untuk ketemu supervisor karena progress saya minim. Ditambah dengan beberapa masalah kehidupan sosial yang membuat produktivitas tidak maksimal.

Sekarang, sudah hampir setahun sejak 18 Oktober 2013. Cuaca dingin dan datangnya mahasiswa-mahasiswa baru mengingatkan akan diri saya setahun yang lalu. Beberapa hari terakhir ini saya jadi lebih sering bekerja hingga malam. Saya juga terkadang pulang jalan kaki ke flat sambil menenteng sepeda untuk membiarkan pikiran saya terbang luas sekaligus menikmati pemandangan.

Berdiskusi dengan teman-teman yang sudah saya kenal sejak tahun lalu di Oxford dan London juga mengembalikan semangat saya seperti tahun lalu. Semangat yang sempat hilang tiba-tiba muncul kembali seperti saat pertama kali bertemu supervisor. Ide-ide mulai bermunculan. Mimpi-mimpi yang sempat tidur terbangun kembali. Ya, saya kembali ke semangat diri saya tahun lalu, tentunya sekarang dengan kemampuan bahasa Inggris yang cukup meningkat dan teman-teman yang selalu membantu kapan saja dan di mana saja. Terima kasih :)

Posted in Uncategorized | 8 Comments

“Smile!”

Sungguh banyak hal yang mengejutkan di UK ini. Tidak hanya dari infrastrukturnya saja, tapi juga dari perilaku orangnya yang sangat berbeda dengan negara kita, Indonesia. Continue reading

Posted in Uncategorized | 4 Comments

Kilas balik blog lama (dan sedikit tentang penjiplakan)

Dua tahun yang lalu, saya dikirimi sebuah pesan dari seseorang yang menanyakan tentang website lama saya: Info Blog (http://infotentangblog.blogspot.com). Ya, itu adalah blog yang saya kembangkan di waktu luang saya saat SMA. Blog itu berisi tentang trik-trik memodifikasi blogspot dan trik-triknya berasal dari ide sendiri.

Saya memulai bulan Juli 2009 dan berakhir di bulan Desember di tahun yang sama. Ada beberapa hal yang membuat saya enggan untuk melanjutkannya lagi. Yang pertama adalah kesibukan kuliah. Bulan Juli 2009 adalah saat saya hampir tidak ada kegiatan apapun karena sudah lulus SMA dan menunggu kuliah. Begitu memasuki bulan September-Oktober, kesibukan kuliah mulai terasa dan hampir tidak ada waktu lagi untuk mengembangkan blog itu. Selain kesibukan kuliah, alasan kedua yang sebenarnya bikin saya jengkel. Continue reading

Posted in buah pemikiran, ga jelas | 1 Comment

Kenapa Pemimpin Perempuan Banyak yang Berambut Pendek?

Ada satu hal yang menarik perhatian saya saat mengamati beberapa wajah tokoh wanita di Indonesia: rata-rata berambut pendek atau dimodel agar terlihat pendek. Sangat jarang yang model rambutnya melewati bahu. Lihat saja contohnya: Ibu Megawati, Ibu Sri Mulyani, Ibu Mari Elka, Ibu Nafsiah Mboi, dan masih banyak contoh lain. Biarpun saya sempat menemukan foto Ibu Sri Mulyani saat berambut panjang, tapi kebanyakan foto beliau berambut pendek.

Mari Elka PangestuMegawati Sukarnoputri

Sri Mulyani IndrawatiNafsiah Mboi

 

Bahkan di wikipedia Daftar tokoh wanita Indonesia, hampir semua wanita yang pernah jadi menteri/presiden Indonesia rata-rata berambut pendek atau dimodel pendek (disanggul). Memang ada juga beberapa yang tidak, seperti Ibu Rini Mariani (Menperindag 2001-2004). Continue reading

Posted in buah pemikiran, ga jelas | 2 Comments

Menyambungkan sains dan agama

(Bismillah, baru kali ini menulis sesuatu yang agak berat.)

Tanggal 26 Januari kemarin saya diminta tolong untuk mengisi ceramah pengajian bulanan masyarakat Indonesia di Oxfordshire. Ini karena ustadz yang tadinya mau ngisi, tiba-tiba ada keperluan mendadak ke US. Karena tidak sempat untuk cari penggantinya, akhirnya saya deh yang diminta mengisi.

Sejujurnya ilmu agama saya belum ada apa-apanya. Saya tahu banyak teman-teman saya yang jauh lebih hebat agamanya (dalam hal pengetahuan dan praktik). Saya menerima permintaan tersebut agar saya punya alasan untuk belajar agama. Saat itu saya tidak tahu harus mengisi tentang apa, jadi saya konsultasikan ke teman-teman saya sebaiknya mengisi apa. Sebagian besar menyarankan ceramah mengenai sains dan agama, berhubung saya kuliah di jurusan sains Fisika.

Saran tersebut masih terbilang cukup berat bagi saya. Biarpun untuk beberapa kasus saya punya pendapat tertentu, saya berusaha untuk tidak menyambungkan sains dan agama karena ilmu saya belum cukup dalam untuk dua-duanya. Saya jabarkan sedikit alasan saya untuk tidak menyambungkan sains dan agama. Continue reading

Posted in buah pemikiran | 14 Comments