Kematian adalah Anugerah

Dua puluh lima tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 26 Januari, adalah saat saya pertama kali bertemu dengannya. Hari itu pulalah hari pertama saya melihat dunia. Beliau adalah orang yang sangat berpengaruh dalam hidup saya. Menemani saya sedari kecil hingga saat ini menempuh ilmu di belahan bumi lainnya. Berkat semangat, dukungan, nasihat, kebijaksanaan, dan doa beliaulah saya dapat menjadi saya yang saat ini. Ya, beliau adalah Ibu saya, Hj. Farida Kasim.

Bagi kebanyakan orang, Ibu adalah orang yang ramah. Sangat ramah. Semua orang dapat diajak ngobrol, tidak memandang latar belakang orang tersebut. Saya teringat Ibu pernah mengatakan kepada seseorang, “banyaknya tatto ta’ di’, pak?” (“tatto Bapak banyak ya”). Di negara di mana tatto adalah suatu hal yang tabu, saya sontak kaget mendengar perkataan Ibu. Tidak disangka orang tersebut bukannya marah, tapi malah tertawa bersama Ibu. Kuncinya, menurut Ibu, adalah mengatakannya dengan intonasi yang baik, tidak dengan intonasi menghakimi.

Ibu adalah orang yang sangat baik dan murah hati. Menurut saya Ibu adalah orang yang paling baik, bersama Ayah, yang pernah saya temui. Sejak dulu, Ibu dan Ayah tinggal satu rumah bersama banyak kerabat-kerabat dari Pangkep, Bone, ataupun dari tempat lain. Apabila ada kerabat yang ingin bekerja, cari kerja, atau ingin sekolah di Makassar, maka Ibu bersedia rumahnya untuk ditempati secara gratis. Bahkan biaya sekolah kerabat yang membutuhkan pun, Ibu bersedia membayarkannya. Sempat rumah kami dikira kos-kosan karena banyaknya orang yang menempatinya.

Secara biologis, Ibu hanya memiliki 4 anak. Tapi karena Ibu sangat baik dan ramah ke semua orang, sangat banyak yang menganggapnya seperti Ibu sendiri. Di lingkungan keluarga kami, apabila seseorang menyebut “Ibu,” kami semua sudah tahu kalau yang dimaksud adalah Ibu Farida. Berkat Ibu, banyak yang dapat mengenyam pendidikan. Berkat Ibu, banyak pula yang merasa terbantu karirnya dan saat ini telah menduduki jabatan-jabatan strategis. Bahkan banyak yang telah bertemu jodohnya berkat Ibu.

Sangat banyak kebijaksanaan yang saya pelajari dari Ibu. Salah satunya adalah “kata merupakan doa.” Sejak saya kecil, sebelum Ayah dan Ibu berangkat kerja, Ibu selalu mengatakan, “pergi ka’ cari uang dulu, untuk sekolah tinggi-tinggi ta’.” Setiap hari hingga saya sudah besar. Dan terbukti saat ini seluruh anak-anak Ibu telah menyelesaikan pendidikan level universitas. Kakak pertama sarjana teknik di Universitas Brawijaya. Kakak kedua pendidikan Apoteker di Universitas Hasanuddin. Kakak ketiga lulusan M.Sc. di City University of London. Dan saya saat ini sedang menempuh pendidikan doktoral di University of Oxford.

Hampir setiap saat Ibu selalu menanamkan nilai kemurahan hati serta kejujuran pada diri anak-anaknya. “Tidak ada orang yang miskin karena menyumbang,” begitu kata Ibu. “Jangan mengambil yang bukan hak kamu” dan “jangan makan uang haram” begitulah nasihat Ibu. Kedua sifat itulah yang tertanam dalam diri saya, sampai-sampai saat ini saya tidak ingin menggunakan peranti lunak bajakan. Karena saya berpikir apabila saya menghasilkan uang dengan peranti lunak bajakan, maka uang yang saya hasilkan dapat digolongkan sebagai uang haram dan saya tidak mau makan uang itu.

Sudah dari beberapa tahun yang lalu Ibu ingin melihat saya menikah. Bahkan Ibu beberapa kali menanyakan bagaimana kalau saya menikah dengan anak teman-temannya. Meskipun nada bicaranya bercanda, tapi saya tahu kalau Ibu serius menanyakannya. Akan tetapi, saat saya sudah menemukan yang cocok, dan juga cocok untuk Ibu, Ayah, dan keluarga kami, takdir berkata lain. Allah SWT sudah terlebih dahulu memanggil Ibu ke rahmatullah sebelum kami melangsungkan pernikahan.

Pada tanggal 19 Mei 2016 yang lalu, saya mendapatkan telepon dari kakak perempuan saya, kak Fauziah (kak Uchi). Tidak biasanya kak Uchi menelpon langsung nomor Inggris saya. Saya pun menelpon balik. Di telpon, kak Uchi menanyakan apakah saya bisa pulang ke Makassar selama 1 minggu karena Ibu masuk rumah sakit. Cemas dengan keadaan Ibu, saya langsung cek kalendar dan saya bilang kalau saya bisa pulang selama 2 minggu. Seketika itu, saya langsung mencari tiket untuk pulang hari itu juga. Alhamdulillah, saya dapat tiket untuk hari yang sama malamnya dengan penerbangan yang tercepat dan harganya termasuk yang paling murah.

Setibanya di Makassar pada hari Sabtu pukul 3 pagi, terlihat Ibu terbaring di tempat tidur rumah sakit. Saya pun menginap di rumah sakit bersama Ayah dan saudara-saudara lainnya. Meskipun Ibu sudah di rumah sakit sejak hari Rabu, tidak banyak yang mengetahuinya karena keluarga kami memang menginginkan Ibu untuk banyak istirahat. Biarpun demikian, tetap saja banyak yang membesuk Ibu pada hari Sabtu.

Saat hampir semua tamu telah pulang, kondisi Ibu menjadi semakin kritis, tepatnya saat pukul 11 malam. Semua anak-anak Ibu beserta pasangannya pun dipanggil untuk berada di samping Ibu. Ayah membacakan lafadz “laa ilaaha illa Llah” (Tiada tuhan selain Allah) di telinga kanan Ibu. Kak Ari, kak Uchi, kak Daus, dan saya bergantian berbicara di telinga Ibu sambil membacakan surah Yasin dan memijat kaki Ibu. Tidak lama kemudian, Allah memanggil Ibu pada pukul 1.40 pagi hari Minggu, 22 Mei 2016, bertepatan dengan malam Nishfu Sya’ban (malam di mana doa-doa dikabulkan menurut agama Islam). Kami semua terisak dengan kepergian Ibu malam itu. Seketika saya teringat seluruh memori bersama Ibu sejak kecil hingga saat terakhir saya berbicara dengan Ibu. Ayah terlihat yang paling tegar, tapi kami tahu bahwa Ayah lah yang mengalami cobaan yang paling besar di antara kami semua.

Saya teringat beberapa tahun yang lalu, saat teman dekat keluarga kami meninggal dunia, Ibu mengatakan hal yang tidak biasa. “Kematian adalah anugerah,” lanjutnya, “karena apabila tidak ada kematian, dunia ini sudah penuh dengan nenek-nenek.” Selamat jalan Ibu. Engkau adalah anugerah bagi keluarga, bagi orang-orang yang mengenalmu, dan bagi dunia.Selamat jalan, Ibu

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

4 Responses to Kematian adalah Anugerah

  1. Mardy says:

    Al-Fatihah untuk Ibunda..

    • Dina says:

      Al-fatihah untuk ibu Hj. Farida, semoga beliau ditempatkan di surga, teringat beliau semasa bergabung di Apotik Firdaus, beliau adalah orang yang sangat baik dan berhati mulia.

  2. Kiki says:

    Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.. kebaikan ibu dan keramahan ibu akan selalu di kenang.. Al_ fatihah untuk ibu..
    Tgl 9 april 2016 sy masih sempat ktemu ibu dan bersalaman di acara keluarga di makassar,,, kami keluarga besar di luwuk banggai turut berduka cita….

  3. dilla says:

    terus semangat, semoga dimudahkan urusannya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>